Selasa, 07 Desember 2010

Grebeg Suro 2010

Ritual Telaga Ngebel
Sementara upacara pada ritual di Telaga Ngebel, yang diselenggarakan esok harinya, menurut humas kegiatan Wiwik, berupa larung sesaji yang dilakukan pada pagi hari, ditandai dengan membuang berbagai macam sesaji di tengah danau. Upacara yang sudah ada jauh sebelum masyarakat Ponorogo mengenal peradaban maju tersebut kini tetap dipelihara dan dipertahankan dengan cara digarap sesuai dengan kebutuhan pariwisata. Namun demikian, seluruhnya tetap diupayakan tidak mengurangi hal-hal yang bersifat transcendental sebagai perwujutan menjaga kemurniantardisi.
Asal muasal dari Telaga Ngebel sendiri berasal dari cerita yang berkembang di masyarakat, Telaga Ngebel mempunyaiceritaunik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama “Baru Klinting”. Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan.Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.
Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel. Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon salah seorang pendiri Kabupaten ini yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

 Sebuah ritual tahunan disebuah telaga yang dipercaya sering mengambil korban jiwa.
Perjalanan berliku mengelilingi gunung dan buki tmerupakan suasana yang menyegarkan. Indahnya alam di Ngebel semakin lengkap bila memandang telaganya. Inilah Telaga Ngebel. Tapi siapa sangka, telaga indah ini punya citra angker bagi warga setempat entah sudah berapa banyak orang yang tenggelama di sini.
Perahurekreasi yang dulu pernah ada kerap tenggelam dan rusak saat melintas itelaga. Mau tidak mau, sejumlah peristiwa itu semakin menguatkan angkernya sang telaga. Ingin tahu lebih lengkap, seperti apa yang dikatakan Mbah Budiharjo yang tinggal di tepi telaga. Warga setempat menyapanya. Mbah Budi adalah penduduk asli Ngebel yang dianggap tahu banyak mengenai mitos di Telaga Ngebel.
Konon, telaga ini muncul sebagai ekses kemarahan seorang pemuda miskin bernama Baru Klinting yang sering diejek penduduk sekitar yang arogan. Klinting sendiri sebetulnya manusia jelmaan seekor naga yang dibunuh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat.Kedatangan Klinting yang seperti pengemis memicu kemarahan warga yang jijik melihat penampilan sang pemuda. Hanya Nyai Latung yang berbaik hati padanya. Sang pengemis pun marah dengan kesaktiannya ia menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyai Latung yang selamat.Air bah itulah yang kini dikenal sebagai Telaga Ngebel. Sejakitu pula, beragam bencana dan musibah terus-terusan mendera Ngebel.Dari mulai musim paceklik, gagal panen hingga wabah penyakit,dan beencana yang selaludatanghinggakini.
Ada 4 lokasi keramat yang sering diberi sesaji oleh masyarakat. Diantaranya Gua Kumambang yang sekarang terendam air dan Gua Nyai Latung serta Bebong.Mitos Ngebel juga terkait dengan sesepuh Reog Ponorogo Raden Batoro Katong.Ketempat petilasannya inilah sekarang Kami menuju.Batoro Katong yang merupakanputra Raja Brawijayake V pernah bersembunyi dari kejaran musuh dan bertapa disalah satu gua yang ada di tepi telaga.Tempat Batoro Katong singgah pun jadi keramat. Bahkan bila salah satu warga Ngebel punya keinginan tertentu, ia melakukan tirakatan dan member sesaji di tempatini. Bila malam Jumat tiba, Telaga Ngebel ramai oleh beragam sesaji dari mereka yang percaya.Puncaknya adalah saat malam 1 Suro.

Senin, 06 Desember 2010

Grebeg Suro

Aih...Ratna Listy dan Donny Kusuma Main Basah-basahan,,

 Senin, 6 Desember 2010 18:06 WIB

Aih...Ratna Listy dan Donny Kusuma Main Basah-basahan - 
ratna_listy1.jpg
TRIBUNNEWS.COM/ANITA K WARDHANI
Ratna Listy saat menjadi Dewi Songgolangit pada kirab lintas sejarah Ponorogo.
Aih...Ratna Listy dan Donny Kusuma Main Basah-basahan - 
ratna_listy2.jpg
TRIBUNNEWS.COM/ANITA K WARDHANI
Ratna Listy saat menjadi Dewi Songgolangit pada kirab lintas sejarah Ponorogo.
Aih...Ratna Listy dan Donny Kusuma Main Basah-basahan - 
doni_kusuma.jpg

   
PONOROGO - Semarak Grebeg Suro (Tahun Baru Islam) di Ponorogo Jawa Timur semakin terasa meriah dengan kedatangan dua artis ibukota. Ratna Listy dan Donny Kusuma. Keduanya bahkan rela berbasah-basah ria di tengah hujan deras yang mengguyur kota reog, Senin (6/12/2010) sore.

Donny dan Ratna memang sengaja diundang ke Ponorogo dan diikutkan dalam kirab lintas sejarah menjelang malam satu suro ini. Donny mendapatkan peran sebagai raden Batoro Katong yaitu tokoh yang sangat dikenal di Ponorogo. Sementara Ratna Listy menjadi Dewi Songgolangit.

Laiknya peran yang dibawakan, keduanya pun didandani dengan busana kebesaran Ponorogo. Ratna terlihat cantik dalam balutan busana semi dodot (kemben). Dia duduk di atas dokar terbuka. Sesekali peresenter bedah rumah ini melambaikan tangan menyapa warga Ponorogo yang melihat dan menyapanya.

Tak kalah ramah, Donny Kusuma pun tak henti menyahuti seruan warga yang memanggilnya dengan nama roso (kuat) menirukan ucapannya dalam salah satu iklan minuman berenergi yang dibintanginya. Dia pun didandani persis dengan penokohan seorang Batoro Katong, lengkap dengan surban dan keris. Berdiri gagah di atas kereta kuda mengelilingi rute kirab.

"Ya roso pak, bu. Hujan-hujan gini tetap semangat kirab ya," ucap artis bertubuh atletis ini.

Kirab ini untuk menunjukkan simbol-simbol daerah seperti pusaka yang dimiliki di daerah dipertontonkan. Kirab ini menjalani rute mulai kawasan kota lama di kawasan Pasar Pon sampai ke pusat pemerintahan Ponorogo saat ini di Kecamatan Kota.

Ratusan orang terlibat dalam kirab ini. Sama halnya dengan Donny dan Ratna, peserta kirab pun rela kehujanan.